Senin, 27 Januari 2020

Pakaian adat Lampung



PAKAIAN ADAT LAMPUNG

Pakaian adat lampung bernama Tulang Bawag, Kendati mempunyai penduduk dari suku yang heterogen, kebudayaan masyarakat asli Lampung sendiri masih dilestarikan hingga masa kini. Salah satu warisan budaya tersebut yang saat ini masih dapat kita lihat yakni Pakaian adat Lampung.
Pakaian adat lampung adalah warisan dari budaya Lampung yang sangat khas dan mempunyai nilai seni sangat tinggi. Pakaian adat ini biasa digunakan untuk acara nikahan, Tari sebagai simbol penghormatan budaya lampung.




PAKAIAN ADAT LAMPUNG DAERAH PESISIR

Di PrOvinsi lampung sendiri pakaian adat Lampung terbagi menjadi dua adat, yakni Pakaian adat Lampung Saibatin dan Pakaian Adat Lampung Pepadun. Pakaian tradisional Lampung Jika dicermati dengan seksama terdapat perbedaan pakaian adat pepadun dan saibatin.
Namun, pada dasarnya masih terdapat kemiripan yakni menggunakan kain tapis yang dihiasi dengan logam kuningan yang memperindah dan membuatnya terkesan mewah.
Pakaian adat lampung ini sampai sekarang masih diwariskan dan banyak digunakan pada acara penikahan (sebagai baju pengantin)  dan kadang juga digunkan dalam pertunjukan seni tar daerah lampung, seperti Tari Bedana dan Tari Sembah.
Suku Saibatan adalah suku di provinsi lampung yang mendami daerah pesisir lampung yang membentang luas dari timur, selatang hingga barat, Wilayah pesebaran suku Saibatan (pesisir) mencakup Lampung timur, Bandar Lampung, Lampung Selatan, Pesawaran, Tanggamus, Serta Lampung Barat.
Suku Sibatin atau suku peminggir penganut sistem kekerabatan partileneal atau mengikuti garis keturunan dari ayah. Walau demikian, Suku Saibatin mempunyai keunikan tersendiri dalam hal tatanan masyarakat dan tradisi.
Kata “Saibatan” yang berarti satu batin atau mempunyai satu junjungan. Hal ini sesuai dengan tatanan sosial di dalam suku Saibatan, hanya  terdapat satu pemimpin/raja adat dalam setiap generasi kepemimpinan.
Mengenai budaya dari suku saibatan sendiri cenderung bersifat aristokratis. sebab kedudukan adat hanya bisa diwariskan melalui garis keturunan saja. Berbeda dengan suku pepadu, tak ada upacara tertentu yang bisa mengubah status seseorang di dalam masyarakat.
Ciri yang dari suku Suku saibatan bisa dilihat dari perangkat yang dipakai dalam ritual adat. Salah satunya yaitu berbentuk siger (sigekh) atau mahkota pengantin suku Saibatin yang mempunyai 7 lekuk/pucuk (sigokh lekuk pitu).
Tujuh pucuk ini melambangkan 7 adog, adalah suttan, raja jukuan/depati,radin, batin, minak, mas dan kimas. Selain itu, terdapat juga yang dinamakan awan gemisir (awan gemisikh) yang perkirakan digunakan sebagai bagian dari budaya arak-arakan adat, diantaranya seperti acara pernikahan.





PAKAIAN ADAT LAMPUNG LAKI-LAKI BESERTA KETERANGANNYA


Baju/pakaian adat laki-laki suku Lampung umumnya terkesan sederhana, yakni berupa lengan panjang berwarna putih, celana panjang hitam. sarung tumpal, sesapuran dan khika akhir.
Mengenai Sarung Tumpal yakni kain saung khas dari Lampung yang ditenun dengan menggunakan benang emas. Sarung ini dipakai di luar celana, panjangnya mulai dari lutut hingga pinggang.
Setelah sarung, adalah khikat akhir atau selendang bujur sangkar dikenakan dengan melingkarkakan ke pundak menutupi bahu.
Baju adat untuk pengantin laki-laki suku Lampung dilengkapi dengan beragam aksesoris, pernik perhiasan. Setidaknya terdapat delapan perhiasan yang umumnya dikenakan oleh pengantin laki-laki.
Pernik perhiasan tersebut diantaranya seperti kopiah emas berujim perhiasan leher berupa kalung, perhiasan pinggang, perhiasan dada, serta perhiasan lengan. Supaya lebih jelas mengenai perhisan tersebu, berikut kami berikan keterangannya :




































































Rabu, 22 Januari 2020

Pakaian Adat Minangkabau



  1. Pakaian Limpapeh Rumah Nan Gadang.

    Limpapeh Rumah Nan Gadang atau sering disebut pakaian Bundo Kanduang. Makna pakaian adat Minangkabau ini merupakan lambang kebesaran bagi para istri. Pakaian tersebut merupakan simbol dari pentingnya peran seorang ibu dalam keluarga.
    Limpapeh memiliki arti tiang tengah dari bangunan rumah adat Minangkabau. Peran limpapeh dalam memperkokoh menegakkan bangunan adalah analogi dari peran ibu dalam sebuah keluarga. Jika limpapeh roboh, maka rumah juga akan roboh. Ini sebuah pesan agar wanita atau seorang ibu yang tidak pandai mengatur rumah tangga. Dan oleh sebab itulah keharmonisan rumah tangga tidak bertahan lama dan hubungannya akan sama roboh.
    Pakaian adat Bundo Kanduang atau Limpapeh Rumah Nan Gadang memiliki desain yang berbeda dari setiap sub suku dan hampir sama mirip dengan baju adat Minangkabau anak. Akan tetapi, beberapa kelengkapan khusus yang pasti ada dalam pakaian-pakaian tersebut. Perlengkapan yang dimaksud adalah tingkuluak (tengkuluk), baju batabue, minsie, lambak atau sarung, salempang, dukuah (kalung), galang (gelang), dan beberapa aksesoris yang lain.
  2. Tingkuluak (Tengkuluk).

    Tengkuluk merupakan sebuah penutup kepala yang bentuknya menyerupai kepala kerbau atau atap dari rumah gadang. Penutup kepala yang terbuat dari kain selendang ini dikenakan sehari-hari maupun saat dalam upacara adat tertentu.
  3. Baju Batabue

    Baju batabue atau baju bertabur adalah baju adat Minangkabau baju kurung (naju) yang dihiasi dengan taburan pernik benang emas. Pernik-pernik sulaman benang emas tersebut melambangkan tentang kekayaan alam daerah Sumatera Barat yang begitu berlimpah. Corak dan motif dari sulaman ini pun sangat beragam.
    Baju batabue dapat kita jumpai dalam 4 varian warna, yaitu warna merah, hitam, biru, dan lembayung. Pada bagian tepi lengan dan leher terdapat hiasan yang biasa disebut minsie. Minsie adalah sulaman yang menyimbolkan bahwa seorang wanita Minang harus taat pada batas-batas hukum adat yang berlaku.
  4. Lambak

    Lambak atau sarung adalah pakaian bawahan pelengkap pakaian adat Bundo Kanduang. Sarung ini ada yang berupa songket dan berikat. Sarung dikenakan dengan cara diikat pada pinggang. Belahannya bisa disusun di depan, samping, maupun belakang tergantung adat Nagari atau suku mana yang memakainya.
  5. Salempang

    Salempang adalah selendang yang terbuat dari kain songket. Salempang di letakan di pundak wanita. Salempang menyimbolkan bahwa wanita harus memiliki welas asih pada anak dan cucu, serta harus waspada akan segala kondisi.
  6. Perhiasan

    Umumnya seperti pakaian adat wanita dari daerah lain, penggunaan baju adat Minangkabau untuk wanita juga dilengkapi dengan beragam aksesoris seperti galang (gelang), dukuah (kalung), serta cincin. Dukuah memiliki beberapa motif, yaitu kalung perada, daraham, kaban, manik pualam, cekik leher, dan dukuh panyiaram. Secara filosofis, dukuah melambangkan bahwa seorang wanita harus selalu mengerjakan segala sesuatu dalam dasar kebenaran.






Baju Adat Tradisional Pa Minangkabauri
Pakaian adat Sumatera Barat untuk pria bernama pakaian penghulu. Sesuai namanya, pakaian ini hanya digunakan oleh tetua adat atau orang tertentu saja, dimana dalam cara pemakaiannya pun di atur sedemikian rupa oleh hukum adat yang berlaku. Pakaian ini terdiri atas beberapa perlengkapan yang di antaranya Deta, baju hitam, sarawa, sesamping, cawek, sandang, keris, dan tungkek.
  1. Deta.

    Deta atau destar adalah sebuah penutup kepala yang terbuat dari kain berwarna hitam gelap biasa yang dililitkan untuk membuat kerutan. Kerutan pada deta melambangkan bahwa sebagai seorang tetua, saat akan memutuskan sesuatu perkara hendaknya terlebih dahulu ia dapat mengerutkan dahinya untuk mempertimbangkan segala baik dan buruk setiap hasil dari keputusan. Deta sendiri dibedakan berdasarkan pemakaiannya menjadi deta raja untuk seorang raja, kemudaian deta gadang dan deta saluak batimbo untuk penghulu, deta ameh, dan deta cilieng manurun.
  2. Baju

    Baju penghulu umumnya berwarna hitam. Baju ini terbuat dari kain beludru. Warna hitamnya melambangkan tentang makna kepemimpinan. Segala puji dan umpat haru dapat diredam seperti halnya warna hitam yang tak akan berubah meski warna lain ikut campur.
  3. Sarawa

    Sarawa adalah celana penghulu yang berwarna hitam. Celana ini memiliki ukuran besar pada bagian betis dan paha. Ukuran inilah yang melambangkan seorang kepala adat atau pemimpin berjiwa besar dalam melaksanakan tugas dan mengambil keputusan atas suatu perkara.
  4. Sasampiang

    Sasampiang adalah selendang merah berhias benang makau warna warni yang diletakan di bahu pemakainya. Warna merah selendang melambangkan makna keberanian, sementara hiasan benang makau melambangkan maka ilmu dan kearifan.
  5. Cawek

    Cawek atau ikat pinggang berbahan sutra yang dikenakan untuk menguatkan ikat celana sarawa yang longgar. Kain sutra ini melambangkan jika seorang penghulu harus cakap dan lembut saat memimpin, selain itu juga sanggup mengikat jalinan persaudaraan antar masyarakat yang dipimpinnya.
  6. Sandang

    Sandang adalah kain merah yang diikatkan di pinggang sebagai pelengkap pakaian adat Minangkabau. Kain merah ini memiliki segi empat, melambangkan bahwa seorang penghulu harus tunduk pada hukum adat yang berlaku.
  7. Keris dan Tongkat

    Keris diselipkan di pinggang, sementara tongkat digunakan untuk petunjuk jalan. Kedua kelengkapan ini adalah simbol bahwa kepemimpinan merupakan sebuah amanah dan tanggung jawab besar.


Pakaian Adat Banten


Baju Pangsi Banten

Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Banten khususnya di wilayah pedesaan yang masih memegang adat istiadat serta memiliki pola hidup yang sederhana, pakaian adat banten masih dipakai. Pakaian adat banten yang digunakan masayrakat khsusunya oleh kaum laki-laki adalah baju pangsi.
Baju pangsi merupakan baju yang dikenakan sehari-hari oleh masyarakat Banten. Baju ini dipadukan dengan busana bawahan berupa celana komprang. Selain sebagai pakaian sehari-hari baju pangsi juga dikenakan dalam latihan silat tradisional atau biasa disebut dengan debus yang kerap digelar oleh masyarakat adat Banten.
Pangsi merupakan singkatan dari Pangeusi “Numpang ka Sisi” yaitu pakaian penutup badan yang pemakaiannya dibelitkan dengan cara menumpang seperti memakai sarung. Baju Pangsi terdiri dari 3 susunan yaitu: Nangtung, Tangtung, Samping.

Pakaian Adat Baduy Banten

Suku Baduy adalah suatu suku pedalaman yang sering dianggap sebagai suku asli masyarakat Banten. Suku ini masih memegang erat hukum adat istiadat dan menutup diri dari masyarakat luar dan kemajuan teknologi.
Kendati demikian, dari sisi penerimaannya terhadap masyarakat dari luar, suku Baduy sendiri dibagi menjadi dua, yaitu suku Baduy Dalam yang sama sekali tidak mau berinteraksi dengan masyarakat luar, dan suku Baduy Luar yang masih mau berinteraksi tetapi dengan batas-batas tertentu. Dalam hal pakaian adat, kedua jenis suku Baduy ini juga mempunyai perbedaan cukup mencolok.









Pakaian Adat Betawi



Pakaian Adat Betawi

Pakaian keseharian Betawi adalah pakaian biasa dipakai oleh masyarakat Betawi dalam kehidupan sehari-hari. Pada pakaian keseharian pria ini, pakaian adatnya terdiri dari baju koko atau sebutan lainnya adalah sadariah, celana komprang dengan ukuran tanggung, kemudian menggunakan sarung yang digulung lalu diikatkan pada bagian pinggangnya, memakai sabuk hijau, dan peci yang berwarna merah.   Di bawah ini kami jelaskan secara detail mengenai masing-masing pakaian keseharian pria Betawi pada umumnya.  



Baju Koko atau Sadariah

Baju koko Betawi mempunyai sebutan sendiri yang cukup familiar yaitu sadariah. Sadariah sendiri memiliki model yang hampir sama dengan baju koko pada umumnya yang beredar di pasaran. Yang membedakan antara keduanya sangatlah sedikit yaitu pada sadariah tidak kita jumpai adanya motif.
Sadariah yang merupakan pakaian adat dari betawi ini tidak memiliki beberapa campuran warna. Karen hanya memiliki satu pilihan warna saja dan kesannya polos. Baju sadariah ini hanya diperuntukkan bagi pria betawi yang sudah atau sering dipanggil dengan sebutan abang.  

Celana Dari Batik

Celana dari kain batik ini adalah berupa celana kolor atau celana yang memiliki karet di bagian pinggangnya. Celana kolor ini merupakan atribut kedua dalam pakaian adat betawi untuk keseharian para pria.
Bentuk celana ini adalah panjangnya hanya sampai pada bagian bawah lutut saja (tanggung) dan motifnya dari batik yang tidak terlalu ramai. Warna – warna kain yang pada umumnya digunakan dalam membuat celana kolor khas pria Betawi ini adalah warna hitam, putih, dan juga cokelat.  

Selendang atau Sorban

Selendang atau sorban adalah atribut ketiga dalam pakaian keseharian pria betawi. Selendang khusus pria betawi ini juga biasa disebut dengan istilah sarung atau sorban. Tetapi, sorban ini bukanlah sorban yang biasanya dipakai di bagian kepala. Namun, cara pakainya yaitu kain dilipat kemudian diletakkan pada pundak atau dikalungkan di bagian leher pria betawi.  

Peci Atau Kopyah

Hampir sama dengan penutup kepala yang berwarna hitam yang biasa dipakai oleh orang-orang beragama Islam untuk beribadah atau menjalankan ibadah sholat di Indonesia. Sementara itu, di Betawi peci atau yang sering disebut kopyah ini biasanya dipakai oleh para pria untuk keseharian mereka.
Peci atau kopyah orang betawi biasanya memang berwarna hitam, akan tetapi ada juga yang berwarna merah atau terbuat dari bahan beludru. Pada jaman sekarang ini bentuk dan desain kopyah makin beragam.

























Pakaian Adat Bali



1. Baju Safari

Baju Safari merupakan baju adat Bali yang dikenakan oleh kaum laki-laki. Bentuk baju safari adalah seperti kemeja pada umumnya, dan komplit disertai dengan kerah dan kancing. Terdapat juga saku yang dibuat di bagian kiri atau kanan. Warna Baju Safari identik dengan bersih, sehingga warna untuk kemeja yang tepat adalah putih bersih.



2. Udeng

Udeng merupakan nama lain dari ikat kepala atau penutup kepala yang dikenakan bersama dengan baju adat bali. Ikat kepala ini menjadi sesuatu yang spesial bagi masyarakat Bali. Selain udeng digunakan bersamaan dengan baju khas Bali, udeng juga dipakai ketika penduduk beribadah di dalam candi.
Beberapa pria tetap menggunakan udeng meskipun tidak mengikuti acara atau sedang beribadah. Hal ini dikarenakan rasa kesadaran budaya yang tinggi serta menciptakan kekhasan bahwa pria akan lebih baik memakai udeng kemanapun dan kapanpun mereka berada.





3. Kamen

Kamen merupakan kain bawahan pada pakaian adat bali yang dikenakan oleh penduduk asli Bali. Bila diamati, kamen memiliki persamaan dengan sarung yang berbentuk persegi dengan kain tertentu. Kain pembuat kamen terbuat dari kain yang tipis. Pria dan wanita memiliki aturan pemakaian yang berbeda dalam mengenakan kamen ini.
Untuk pria, umumnya mengenakan 2 lembar kain yang digunakan untuk menutupi bagian bawahan. Kain yang ada di bagian dalam inilah yang yang disebut kamen, sementara pada bagian luarnya disebut sebagai saput dan diikatkan pada selendang dengan tujuan agar kain kamen tidak lepas.
Cara mengenakannya adalah kamen diikat melingkar pada bagian pinggang dan dimulai dari arah kiri ke kanan. Selanjutnya pada bagian depan dibuat lipatan dengan simpul.
Sedangkan untuk wanita, caranya sedikit berbeda. Kamen hanya diikatkan melingkar pada bagian pinggang saja dari sisi kiri ke kanan. Selanjutnya tinggal diikatkan pada sebuah selendang yang dibawa.

4. Kebaya Bali

Sekilas terlihat seperti pakaian adat Jawa, namun Bali juga memiliki pakaian khas yang serupa. Kebaya Bali berbeda dengan kebaya Jawa. Ciri khas yang membedakan adalah kebaya Bali memiliki lengan dan bahu dengan desain terbuka serta dikenakannya juga sebuah sabuk yang pada bagian tengah dada.
Tidak jauh berbeda dengan adat Jawa, di Bali pakaian kebaya juga dipakai sebagai pakaian resmi pada hari-hari penting, seperti hari raya, pernikahan, ritual keagamaan, maupun acara-acara penting lainnya. Bila anda pernah berkunjung ke Bali, pasti akan tahu para penduduk wanita yang mengenakan kebaya. Hal ini dapat dilihat karena hampir setiap hari selalu ada ritual yang dilakukan.































Pakaian Adat Maluku



1. Baju Cale, Pakaian Adat Maluku

Baju Cale sering disebut kain salele, pakaian ini memiliki kain yang tebal, tetapi tetap nyaman saat di pakai. Pakaian adat yang satu ini memiliki warna yang cerah yaitu merah dengan garis-garis warna emas atau perak. Pakaian untuk pria dan wanita sedikit ada perbedaan tetapi jika digunakan tetap terlihat seragam. Berikut adalah perbedaan antara pakaian pria dan pakaian wanita:

Pakaian Untuk Pria

Atasan yang dikenakan berbentuk seperti jas dilengkapi dengan kemeja di dalamnya. Untuk celana biasanya mengenakan celana warna hitam atau celana dengan warna yang sama dengan jas. Untuk memberikan kesan elegan sepatu yang dikenakan adalah sepatu vantovel.

Pakaian Untuk Wanita

Baju Cele untuk wanita dikombinasikan dengan kain sarung tenun atau kebaya dengan warna yang senada. Sama hal nya dengan yang dikenakan pria, sepatu yang dipakai adalah sepatu vantovel. Untuk penghias dan menambah keindahan, pakaian wanita biasanya ditambahkan beberapa aksesoris, antara lain:

  • Konde. Bentuk konde yang dikenakan wanita Maluku hampir sama dengan bentuk konde pada umumnya. Biasanya konde yang digunakan wanita Maluku berwarna emas atau perak. Masyarakat di Provinsi Maluku menyebut konde dengan nama haspel.
  • Kak Kuping. Jumlah kak kuping yang dikenakan untuk melengkapi baju Cale berjumlah 4. Bentuk dari kak kuping ini hampir menyerupai bunga. Kak kuping ini dipasang untuk dipadupadan kan dengan konde atau haspel.
  • Bunga Ron. Sama halnya dengan kak kuping, Bunga Ron dikenakan untuk dipadupadankan dengan konde. Bungan ron ini terbuat dari papeceda atau gabus. Cara memasang bunga ron ini adalah dilingkarkan di konde.
  • Sisir Konde. Selain untuk menambah nilai estetika, sisir konde ini berfungsi untuk menjaga konde agar tidak jatuh. Selain itu sisir konde juga berfungsi untuk menjaga rambut agar tetap rapi. Sisir konde ini terletak di tengah konde.
  • Kain Lenso. Kain ini merupakan tambahan aksesoris berbentuk menyerupai sapu tangan. Untuk kain lenso ini  ditempelkan di bagian pundak menggunakan peniti. Penggunaan kain lenso ini karena pada zaman dahulu ada campur tangan Belanda.
Pakaian adat Maluku tidak hanya baju Cale saja, melainkan ada beberapa macam pakaian adat dari provinsi Maluku. Pakaian adat ini tentunya memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Berikut adalah macam-macam pakaian adat dari Provinsi Maluku.

2. Kebaya Putih Tangan Panjang

Seperti namanya, Pakaian ini berwarna putih dan terbuat dari bahan brokat. Pada Zaman dahulu pakaian ini biasa dikenakan oleh wanita dari kalangan tertentu seperti guru, wanita kerajaan, atau para bangsawan. Untuk menambah nilai estetika, pada pakaian ini dilengkapi dengan beberapa macam aksesoris.
Aksesoris pada pakaian ini seperti kancing di pergelangan tangan dan kancing di bagian depan. Selain itu pada pakaian ini juga terdapat hiasan bordir di bagian belakang. Pada saat mengenakan pakaian ini, biasanya ditambahkan aksesoris tusuk konde dan sanggul berbentuk bulang. Untuk alas kaki yang dikenakan adalah alas kaki berwarna putih.

5. Kebaya Dansa

Pakaian adat Maluku ini biasa dikenakan saat ada pesta rakyat. Kebaya dansa ini merupakan pakaian yang berbentuk seperti kemeja berleher bundar tanpa kancing. Bahan untuk membuat pakaian ini adalah kain polos dengan motif bunga-bunga kecil. Kebaya dansa ini dapat dikenakan oleh pria maupun wanita.












































Pakian Adat Papua




1. Koteka, Pakaian Adat Laki-Laki

Di suku pedalaman asli Papua, kita akan disuguhkan dengan pemandangan yang unik. Bukan hanya keindahan alamnya, namun pakaian yang mereka kenakan sehari-hari.
Jika pada umumnya, seorang laki-laki menggunakan baju dan celana yang rapi dan tertutup namun tidak dengan laki-laki di Papua. Mereka tidak mengenakan baju sama sekali sehingga terlihat seperti telanjang. Meski demikian ternyata mereka mengenakan pakaian adat Papua yang disebut koteka.
Koteka digunakan untuk menutupi bagian kemaluan laki-laki atau alat vital. Koteka sendiri mempunyai arti pakaian dan nama ini digunakan oleh suku di Pantai. Uniknya, nama koteka pun sangat beragam sesuai dengan sukunya. Misalnya suku di pegunungan Jayawijaya menyebut koteka dengan nama holim atau horim.
Koteka terbuat dari buah labu air tua yang dikeringkan lalu dibuang bagian dalamnya (biji dan daging buah). Proses pengeringan labu air tua ini dimaksudkan agar tidak cepat membusuk sehingga dapat digunakan sebagai bahan koteka. Mereka memilih buah labu air yang tua karena buah tersebut memiliki tekstur yang lebih keras sehingga lebih awet dibandingkan labu air muda.
Tidak hanya itu, pemakaian koteka juga bervariasi. Ada yang memakai koteka panjang untuk orang Yali dan dua koteka untuk orang Tiom. Koteka memiliki bentuk selongsong yang memanjang di bagian depannya dan dikaitkan di pinggang sampai mengarah ke atas. Selain itu, ukuran koteka sangat bervariasi. Semakin tinggi kedudukan seorang laki-laki terhadap adatnya maka semakin besar ukuran koteka yang mereka kenakan.
Mereka menggunakan koteka dalam sehari-hari tidak hanya pada acara-acara tertentu saja. Meski begitu terdapat beberapa perbedaan di dalamnya:
  • Koteka yang dikenakan saat acara adat memiliki ukuran yang lebih panjang dengan ukiran etnik khas Papua.
  • Koteka yang digunakan untuk kegiatan sehari-hari atau saat bekerja memiliki ukuran yang lebih pendek dengan desain yang lebih sederhana.



2. Rok Rumbai, Pakaian Adat Perempuan

Jika laki-laki Papua menggunakan koteka, berbeda dengan perempuan Papua. mereka mengenakan rok rumbai sebagai pakaiannya. Rok rumbai ini merupakan pakaian adat Papua perempuan yang berupa rok dan terbuat dari susunan daun sagu kering dan digunakan untuk menutupi sebagian tubuh bawah.
Namun, pada kenyataannya, rok rumbai tidak hanya dikenakan oleh perempuan saja, melainkan dikenakan pula oleh laki-laki pada acara-acara tertentu.
Sama halnya dengan pakaian adat laki-laki, perempuan Papua juga tidak mengenakan pakaian atas. Meskipun demikian, mereka membuat tato atau lukisan yang akan menyamarkan tubuh bagian atas. Motif-motifnya pun beragam dengan ciri khas Papua mengenai lingkungan flora dan fauna.
Penggunaan rok rumbai belum lengkap jika tidak menggunakan aksesoris yang tepat. Mereka membuat hiasan kepala menggunakan bahan ijuk, bulu burung kasuari dan juga daun sagu kering. Sehingga mereka akan terlihat menawan ketika dipandang.


3. Sali, Pakaian Adat Perempuan Lajang

Perempuan Papua memiliki pakaian adat yang berbeda antara yang sudah menikah dengan mereka yang masih lajang. Bagi perempuan lajang Papua mereka mengenakan pakaian khusus yang menarik. Pakaian adat ini dinamakan Sali. Pakaian ini terbuat dari kulit pohon.
Namun, warna yang dihasilkan dari kulit pohon ini harus berwarna coklat. Dikarenakan Sali hanya untuk perempuan yang masih lajang maka mereka yang sudah menikah dianggap tidak layak mengenakan pakaian ini.

4. Yokai Pakaian Adat Pedalaman

Jika Sali merupakan pakaian adat Papua khusus perempuan lajang, berbeda dengan Yokai. Yokai merupakan pakaian adat yang hanya ada di daerah Papua Barat dan sekitarnya dan hanya bisa dijumpai di daerah pedalaman Papua.
Pakaian ini hanya boleh digunakan oleh perempuan yang sudah memiliki keluarga. Yokai memiliki warna coklat sedikit kemerahan. Bahkan baju ini juga merupakan simbol masyarakat Papua yang dekat dengan alam, sehingga jangan heran jika baju ini tidak boleh diperjualbelikan.