Senin, 27 Januari 2020

Pakaian Adat Kalimantan Barat


1. King Baba, pakaian laki-laki suku Dayak
Laki-laki dari suku Dayak memiliki pakaian adat bernama King Baba. Dalam bahasa Dayak, “king” bermakna pakaian dan “baba” menyatakan laki-laki. Baju ini dibuat dari kulit kayu kapuo atau tanaman ampuro.
Kulit kayu berserat tinggi ini dipipihkan dengan cara dipukul-pukul menggunakan batu sambil dicelupkan ke dalam air. Setelah cukup lentur, kulit kayu kemudian dijemur hingga kering. Baru setelahnya diberi lukisan etnik khas Dayak dan dibentuk menyerupai rompi tanpa lengan.
King Baba dikenakan bersama ikat kepala yang terbuat dari bulu burung Enggang Gading, serta senjata tradisional bernama mandau. Pakaian adat ini juga dikenal sebagai baju perang suku Dayak.

2. King Bibinge, pakaian perempuan suku Dayak

Untuk perempuan suku Dayak, pakaian adatnya disebut King Bibinge. Bahan baku dan proses pembuatannya sama seperti King Baba, hanya saja didesain lebih sopan untuk menutupi bagian tubuh perempuan. Kulit kayu yang sudah dilukis kemudian dibentuk menjadi kemben untuk penutup dada, rok bawahan, dan stagen. Di permukaannya juga dihiasi dengan manik-manik yang terbuat dari kayu atau biji kering. Sama seperti King Baba, pemakaian King Bibinge juga dilengkapi ikat kepala berbentuk segitiga. Aksesoris lainnya adalah jarat tangan atau gelang yang terbuat dari akar tanaman yang dipintal.
Beberapa perempuan suku Dayak juga memakai kalung yang terbuat dari tulang hewan atau akar tanaman. Gelang dan kalung ini dianggap sebagai penolak bala dan gangguan roh jahat.
3. Pakaian adat bernuansa Melayu cenderung lebih tertutup
Baju pengantin khas Kalimantan Barat kental dengan nuansa melayu. Bahan bakunya menggunakan kain songket khas Melayu. Pakaian ini juga dijuluki telok belanga atau cekak musang.

4. Buang Kuureng, modifikasi pakaian adat untuk perempuan

Baju kurung adalah pakaian adat Melayu untuk perempuan. Model busana ini banyak dikenakan di Malaysia, Brunei Darussalam, dan beberapa wilayah di Indonesia seperti Sumatera Barat hingga Kalimantan Barat.
Di Kalimantan Barat, baju kurung berbahan beludru untuk perempuan ini disebut sebagai Buang Kuureng. Ada dua jenis Buang Kuureng, yaitu kuurung sapek tangan untuk baju berlengan pendek dan kuurung langke tangan yang berlengan panjang.
Pakaian adat Kalimantan Barat termasuk dalam khazanah budaya Nusantara yang wajib dilestarikan






































Pakaian Adat Kalimantan Timur



PAKAIAN ADAT  KALIMANTAN TIMUR KUSTIN

Baju adat dengan nama Kustin ini merupakan pakaian adat kalimantan timur yang bisanya dikenakan oleh suku Kutai.
Pakaian aini biasanya dikenakan oleh golongan menengah ke atas sebagai pakaian resmi dalam upacara pernikahan di masa silam.
Nama “Kustin” ini sendiri berasal dari bahasa kutai yang berarti busana. Pakaian adat kustin kalimantan timur ini biasanya terbuat dari bagah beludru berwarna hitam.
Lengan baju didesain panjang dan kerahnya tinggi dengan bagian kerah dan dadanya dihiasi dengan pasmen.
Bagi para pria, pakaian adat Kustin umumnya akan dipadukan dengan celana panjang hitan yang dipasangi dengan dodot rambu bundar berhiaskan lambang Wapen.
Sedangkan bagi para wanita, pakaian adat kustin dipakai dengan tambahan berupa kelibun kuing yang terbuat dari sutera.
Selain itu mereka juga akan menghias rambutnya dengan hiasan yang menyerupai aksesoris danggul adat jawa.



PAKAIAN ADAT DAYAK NGAJU

Dayak ngaju sebenarnya tidak dominan mendiami daerah Provinsi Kalimantan Timur. Akan tetapi, Kekhasan pakaian adat yang diwariskan kebudayaan mereka sangat disayangkan apabila tidak dibahas.
Suku dayak ngaju lebih sering ditemukan menduduki wilayah kalimantan tengah. Untuk kaum laki-laki, pakaian tradisional mereka umumnya berupa kain penutup bagian bawah sebatas lutut, rompi, ikat kepala berhias bulu enggang, kalung manik-manik, ikat pinggang dan perisai kayu serta mandau sebagai aksesoris pada bagian pinggang.
Sedangkan untuk para kaum wanita, Pakaian adat tersebut berupa rok pendek, baju rompi, ikat kepala yang dihiasi bulu enggang, ikat pinggang, kalung manik-manik dan gelang tangan.
Perlu diketahui bawasannya pembuatan pakaian adat tersebut, Suku dayak ngaju biasanya menggunakan bahan-bahan alami berupa serat alam, kulit siren, atau kayu nyamun. Bahan tersebut kemudian dibentuk sedemikian rupa dan dibubuhi warna dan corak hias.
Hias yang digunakan dalam pakaian adat tersebut sering kali diilhami oleh keyakinan masyarakat di suku tersebut.



PAKAIAN ADAT DAYAK BULAN KUURUNG

Selain pakaian adat yang telah di jelaskan diatas, terdapat beberapa pakian Kalimantan Timur lainnya, yakni pakaian adat Bulan Kurung.
Pakaian adat ini terbagi menjadi beberapa jenis. Ada yang di desain tanpa lengan, pakaian dengan lengan pendek (dokot tangan), dan baju dengan desain lengan panjang (lengke). Umumnya baju adat satu ini sering dipakai oleh para dukun.



Pakain Adat Kalimantan Timur Bulang Burai King
lanjut pada tema Pakaian adat Kalimantan timur selanjutnya adalah Pakaian adat dengan nama bulung burai king. Pakaian ini biasanya dikenakan saat upacara adat dayak.
Cirinya yang mencolok pada pakaian ini terletak pada hiasan manik-manik serta bulu burung yang dibentuk dengan sedemikian rupa sehingga terkesan lebih indah, rapi dan menarik.












Pakaian Adat Kalimantan Utara


Pakaian Adat Ta’a dan Sapei Sapaq

Ta’a dan Sapei Sapaq dikenal sebagai pakaian adat Kalimantan Timur. Meskipun begitu, provinsi Kalimantan Utara juga mengakui bahwa kedua pakaian tersebut juga sebagai pakaian adatnya. Meski memiliki nama yang sama, yaitu Ta’a dan Sapei Sapaq khas Kalimantan Timur dan yang khas Kalimantan Barat sebenarnya memiliki perbedaan yang cukup mencolok.
Sebelum kita bahas mengenai perbedaan-perbedaan ini, lebih dahulu mari kita mengenal apa itu pakaian Ta’a dan Sapei Sapaq.






Pakaian Adat Kalimantan Utara untuk Wanita: Baju Ta’a

Pakaian Ta’a merupakan pakaian adat yang khusus dipakai oleh para anita Dayak di Kalimantan. Busana ini dibuat dari kain beludru berwarna hitam dengan pernik atau hiasan berbentuk manik-manik yang dijahit.

Ta’a terdiri dari busana atasan dengan model mirip rompi (tanpa lengan), busana bawahan berbentuk rok dengan warna dan motif yang sama, serta penutup kepala berhias bulu burung enggang, dan perlengkapan lain seperti gelang, kalung, dan manik-manik.
Motif hias rompi dan rok Ta’a cukup kental dengan kombinasi warna-warna yang mencolok seperti putih, hijau, biru, merah, dan warna lain yang kontras dengan warna kain rompi. Pada bagian dada dan lengan dilengkapi rumbai-rumbai dengan warna motif yang sama
Perbedaan utama antara baju Sapei Sapaq dan Taa terdapat pada motif. Untuk motif busana adat Kalimantan Utara, baik pada baju Ta’a maupun Sapei Sapaq sebenarnya terbagi menjadi tiga, yakni motif burung enggang, motif harimau atau hewan lain, serta motif tumbuhan.
Busana dengan motif burung enggang dan harimau pada umumnya digunakan para bangsawan, sementara busana bermotif tumbuhan dipakai oleh rakyat jelata.



Pakaian Adat Kalimantan Utara untuk Pria: Baju Sapei Sapaq

Pakaian adat Sapei Sapaq merupakan pakaian adat Kalimantan Utara yang dikenakan untuk pria. Bahan yang dibuat, model dan motifnya, baju tersebut mirip baju Ta’a. Bedanya untuk busana bawahan, pakaian yang dikenakan kaum pria hanya berupa gulungan selendang dengan bentuk mirip celana dalam.
Meskipun begitu, busana bawahan seperti ini pada jaman sekarang biasanya sudah diganti dengan celana pendek hitam karena dinilai kurang elok dipandang.
Aksesoris baju Sapei Sapaq yaitu sebuah mandau yang terselip pada pinggang, perisai perang, dan kalung-kalung dari bahan alam misalnya tulang, taring babi, dan biji-bijian.




























Pakaian Adat Kalimantan Selatan


1. Bagajah Gamuling Baular Lulut

Namanya yang unik yaitu Bagajah Gamuling baular Lulut merupakan pakaian ciri khas dari provinsi Kalimantan Selatan, pakaian ini biasanya digunakan untuk suatu adat pernikahan yang dipakai oleh laki-laki maupun perempuan. Tetapi, model pakaiannya tidaklah sama.
Untuk laki-laki bisa tidak mengenakan baju, tetapi pada umumnya laki -laki mengenakan baju lengan pendek yang dihiasi dengan manik-manik yang mengkilau.
Pada baju laki-laki tidak memiliki kerah, cara mengenakannya dapat dipadankan dengan celana panjang serta aksesoris seperti kalung samban, ikat pinggang, kain yang bermotif kelabang atau halilipan, dan penutup kepalanya yaitu mahkota yang melingkar berbentuk ular lidi.
Dan untuk pengantin perempuan dapat mengenakan kemban sebagai penutup dada lalu ditambahkan aksesoris berupa selendang, ikat pinggang, konde yang berhiaskan mahkota, kembang goyang, dan kuncup bunga melati. Pada bagian bawa pengantin perempuan mengenakan kain panjang yang bermotif halilipan yang berfungsi sebagai rok.
Bagajah Gamuling baular Lulut merupakan salah satu pakaian pengantin yang kaya akan rentengan bunga melati serta mawar yang menghiasi pengantin sehingga menjadi lebih tampan dan cantik.



2. Ba’amar Galung Pancaran Matahari

Ba’amar Galung Pancaran Matahari merupakan Busana adat untuk pengantin kalimantan selatan yang ada sejak abad ke 17, Busana pengantin ini sangatlah populer dikalangan masyarakat Banjar. Ba’amar Galung Pancaran Matahari memiliki perpadanan antara budaya jawa dengan budaya hindu yang sangat mangkus.
Pada budaya jawa pakaian ini memiliki kesan atau pengaruh dalam penggunaan rentengan kembang melati dan mawar sehingga mebuat aura si pengantin lebih memancar yang sesuai dengan nama busananya, serta perpadanan budaya hindu nan dapat kita saksikan dari dekorasi mahkota dan kainnya yang terdapat naga dan kelabang atau biasa masyarakat banjar menyebutnya dengan halilipan.
Untuk perempuan mengenakan baju poko yang lengannya pendek terdapat hiasan manik-manik yang dibentuk rumbai sehingga mempercantik pengantin perempuan. Ada juga kida-kida, kida-kida merupakan aksesoris pengantin perempuan berbentuk segi lima. Aksesoris ini berfungsi sebagai penutup dada serta hiasan yang sangat menawan.
Sedangkan pria dapat menggunakan kemeja lengan panjang dengan kerenda yang berada di dada, lalu dipadukan dengan jas tanpa kancing serta celana panjang. Pengantin pria juga menggunakan kain yang di pasang pada area pinggang dengan motif halilipan serta tali wenang yang berfungsi sebagai ikat pinggang


3. Babaju Kun (Hwa Kun) Galung Pacinan
Babaju Kun (Hwa Kun) Galung Pacinan, baju tradisional yang satu ini merupakan baju yang berasal dari perpaduan antara budaya banjar dengan budaya tiongkok. Busana adat kalimantan selatan ini memiliki bentuk hampir mirip dengan Pakaian adat betawi, hal itu menggambarkan pada saat masuknya pedagang Gujarat dan pedagang China di Kalimantan Selatan.
Untuk pengantin laki-laki dapat mengenakan pakaian gamis serta jubah panjang tanpa kancing yang berasal dari dampak dari pedagang Gujarat. Menggunakan penutup kepala yaitu kopiah alpe yang berlilitkan surban atau juga dapat mengenakan tanjak laksamana. Tidak hanya itu, pengantin pria juga memakai rentengan atau roncean yang terbuat dari bunga melati. sedangkan alas kakinya sang pengantin bisa menggunakan selop.
Untuk pengantin perempuan bisa menggunakan busana Babaju Kun (Hwa Kun) Galung Pacinan bajunya terdiri dari kebaya lengan panjang bermodelkan cheong sam , selain itu terdapat jahitan indah pada payet yang menggunakan benang emas dengan motif bunga teratai . Cara pemakaiannya dapat dipadukan dengan rok panjang yang dihiasi dengan manik-manik cantik dan disulam dengan  bentuk motif dari tirai bambu.
Sedangkan pada bagian kepala, pengantin perempuan mengenakan mahkota indah berhiaskan permata yang sangat mengkilau, kembang goyang, serta tusuk konde dengan bentuk huruf arab yaitu lam dan burung hong sehingga membuat pengantin menjadi ratu super anggun.



4. Babaju Kubaya Panjang
Babaju Kubaya Panjang merupakan pakaian tradisional kalimantan selatan. Babaju kubaya Panjang adalah baju pengantin turunan dari ketiga baju pengantin diatas, babaju kubaya panjang merupakan baamar galung yang sudah di modifikasi.
Untuk yang laki-laki pakaiannya sama dengan baju galung pancar matahari sedangkan yang perempuan mengenak kebaya panjang seperti baju galung pacinan. Baju adat kalimantan selatan ini sangatlah populer bagi masyarakat kalimantan selatan karena adanya perpaduan dari ketiga busana diatas.
Ada yang harus kalian ketahui konco, hampir semua pakaian adat kalimantan selatan selalu menggunakan aksesoris bogem atau roncean yang terbuat dari bunga melati dan bunga mawar.










































Pakaian adat Lampung



PAKAIAN ADAT LAMPUNG

Pakaian adat lampung bernama Tulang Bawag, Kendati mempunyai penduduk dari suku yang heterogen, kebudayaan masyarakat asli Lampung sendiri masih dilestarikan hingga masa kini. Salah satu warisan budaya tersebut yang saat ini masih dapat kita lihat yakni Pakaian adat Lampung.
Pakaian adat lampung adalah warisan dari budaya Lampung yang sangat khas dan mempunyai nilai seni sangat tinggi. Pakaian adat ini biasa digunakan untuk acara nikahan, Tari sebagai simbol penghormatan budaya lampung.




PAKAIAN ADAT LAMPUNG DAERAH PESISIR

Di PrOvinsi lampung sendiri pakaian adat Lampung terbagi menjadi dua adat, yakni Pakaian adat Lampung Saibatin dan Pakaian Adat Lampung Pepadun. Pakaian tradisional Lampung Jika dicermati dengan seksama terdapat perbedaan pakaian adat pepadun dan saibatin.
Namun, pada dasarnya masih terdapat kemiripan yakni menggunakan kain tapis yang dihiasi dengan logam kuningan yang memperindah dan membuatnya terkesan mewah.
Pakaian adat lampung ini sampai sekarang masih diwariskan dan banyak digunakan pada acara penikahan (sebagai baju pengantin)  dan kadang juga digunkan dalam pertunjukan seni tar daerah lampung, seperti Tari Bedana dan Tari Sembah.
Suku Saibatan adalah suku di provinsi lampung yang mendami daerah pesisir lampung yang membentang luas dari timur, selatang hingga barat, Wilayah pesebaran suku Saibatan (pesisir) mencakup Lampung timur, Bandar Lampung, Lampung Selatan, Pesawaran, Tanggamus, Serta Lampung Barat.
Suku Sibatin atau suku peminggir penganut sistem kekerabatan partileneal atau mengikuti garis keturunan dari ayah. Walau demikian, Suku Saibatin mempunyai keunikan tersendiri dalam hal tatanan masyarakat dan tradisi.
Kata “Saibatan” yang berarti satu batin atau mempunyai satu junjungan. Hal ini sesuai dengan tatanan sosial di dalam suku Saibatan, hanya  terdapat satu pemimpin/raja adat dalam setiap generasi kepemimpinan.
Mengenai budaya dari suku saibatan sendiri cenderung bersifat aristokratis. sebab kedudukan adat hanya bisa diwariskan melalui garis keturunan saja. Berbeda dengan suku pepadu, tak ada upacara tertentu yang bisa mengubah status seseorang di dalam masyarakat.
Ciri yang dari suku Suku saibatan bisa dilihat dari perangkat yang dipakai dalam ritual adat. Salah satunya yaitu berbentuk siger (sigekh) atau mahkota pengantin suku Saibatin yang mempunyai 7 lekuk/pucuk (sigokh lekuk pitu).
Tujuh pucuk ini melambangkan 7 adog, adalah suttan, raja jukuan/depati,radin, batin, minak, mas dan kimas. Selain itu, terdapat juga yang dinamakan awan gemisir (awan gemisikh) yang perkirakan digunakan sebagai bagian dari budaya arak-arakan adat, diantaranya seperti acara pernikahan.





PAKAIAN ADAT LAMPUNG LAKI-LAKI BESERTA KETERANGANNYA


Baju/pakaian adat laki-laki suku Lampung umumnya terkesan sederhana, yakni berupa lengan panjang berwarna putih, celana panjang hitam. sarung tumpal, sesapuran dan khika akhir.
Mengenai Sarung Tumpal yakni kain saung khas dari Lampung yang ditenun dengan menggunakan benang emas. Sarung ini dipakai di luar celana, panjangnya mulai dari lutut hingga pinggang.
Setelah sarung, adalah khikat akhir atau selendang bujur sangkar dikenakan dengan melingkarkakan ke pundak menutupi bahu.
Baju adat untuk pengantin laki-laki suku Lampung dilengkapi dengan beragam aksesoris, pernik perhiasan. Setidaknya terdapat delapan perhiasan yang umumnya dikenakan oleh pengantin laki-laki.
Pernik perhiasan tersebut diantaranya seperti kopiah emas berujim perhiasan leher berupa kalung, perhiasan pinggang, perhiasan dada, serta perhiasan lengan. Supaya lebih jelas mengenai perhisan tersebu, berikut kami berikan keterangannya :




































































Rabu, 22 Januari 2020

Pakaian Adat Minangkabau



  1. Pakaian Limpapeh Rumah Nan Gadang.

    Limpapeh Rumah Nan Gadang atau sering disebut pakaian Bundo Kanduang. Makna pakaian adat Minangkabau ini merupakan lambang kebesaran bagi para istri. Pakaian tersebut merupakan simbol dari pentingnya peran seorang ibu dalam keluarga.
    Limpapeh memiliki arti tiang tengah dari bangunan rumah adat Minangkabau. Peran limpapeh dalam memperkokoh menegakkan bangunan adalah analogi dari peran ibu dalam sebuah keluarga. Jika limpapeh roboh, maka rumah juga akan roboh. Ini sebuah pesan agar wanita atau seorang ibu yang tidak pandai mengatur rumah tangga. Dan oleh sebab itulah keharmonisan rumah tangga tidak bertahan lama dan hubungannya akan sama roboh.
    Pakaian adat Bundo Kanduang atau Limpapeh Rumah Nan Gadang memiliki desain yang berbeda dari setiap sub suku dan hampir sama mirip dengan baju adat Minangkabau anak. Akan tetapi, beberapa kelengkapan khusus yang pasti ada dalam pakaian-pakaian tersebut. Perlengkapan yang dimaksud adalah tingkuluak (tengkuluk), baju batabue, minsie, lambak atau sarung, salempang, dukuah (kalung), galang (gelang), dan beberapa aksesoris yang lain.
  2. Tingkuluak (Tengkuluk).

    Tengkuluk merupakan sebuah penutup kepala yang bentuknya menyerupai kepala kerbau atau atap dari rumah gadang. Penutup kepala yang terbuat dari kain selendang ini dikenakan sehari-hari maupun saat dalam upacara adat tertentu.
  3. Baju Batabue

    Baju batabue atau baju bertabur adalah baju adat Minangkabau baju kurung (naju) yang dihiasi dengan taburan pernik benang emas. Pernik-pernik sulaman benang emas tersebut melambangkan tentang kekayaan alam daerah Sumatera Barat yang begitu berlimpah. Corak dan motif dari sulaman ini pun sangat beragam.
    Baju batabue dapat kita jumpai dalam 4 varian warna, yaitu warna merah, hitam, biru, dan lembayung. Pada bagian tepi lengan dan leher terdapat hiasan yang biasa disebut minsie. Minsie adalah sulaman yang menyimbolkan bahwa seorang wanita Minang harus taat pada batas-batas hukum adat yang berlaku.
  4. Lambak

    Lambak atau sarung adalah pakaian bawahan pelengkap pakaian adat Bundo Kanduang. Sarung ini ada yang berupa songket dan berikat. Sarung dikenakan dengan cara diikat pada pinggang. Belahannya bisa disusun di depan, samping, maupun belakang tergantung adat Nagari atau suku mana yang memakainya.
  5. Salempang

    Salempang adalah selendang yang terbuat dari kain songket. Salempang di letakan di pundak wanita. Salempang menyimbolkan bahwa wanita harus memiliki welas asih pada anak dan cucu, serta harus waspada akan segala kondisi.
  6. Perhiasan

    Umumnya seperti pakaian adat wanita dari daerah lain, penggunaan baju adat Minangkabau untuk wanita juga dilengkapi dengan beragam aksesoris seperti galang (gelang), dukuah (kalung), serta cincin. Dukuah memiliki beberapa motif, yaitu kalung perada, daraham, kaban, manik pualam, cekik leher, dan dukuh panyiaram. Secara filosofis, dukuah melambangkan bahwa seorang wanita harus selalu mengerjakan segala sesuatu dalam dasar kebenaran.






Baju Adat Tradisional Pa Minangkabauri
Pakaian adat Sumatera Barat untuk pria bernama pakaian penghulu. Sesuai namanya, pakaian ini hanya digunakan oleh tetua adat atau orang tertentu saja, dimana dalam cara pemakaiannya pun di atur sedemikian rupa oleh hukum adat yang berlaku. Pakaian ini terdiri atas beberapa perlengkapan yang di antaranya Deta, baju hitam, sarawa, sesamping, cawek, sandang, keris, dan tungkek.
  1. Deta.

    Deta atau destar adalah sebuah penutup kepala yang terbuat dari kain berwarna hitam gelap biasa yang dililitkan untuk membuat kerutan. Kerutan pada deta melambangkan bahwa sebagai seorang tetua, saat akan memutuskan sesuatu perkara hendaknya terlebih dahulu ia dapat mengerutkan dahinya untuk mempertimbangkan segala baik dan buruk setiap hasil dari keputusan. Deta sendiri dibedakan berdasarkan pemakaiannya menjadi deta raja untuk seorang raja, kemudaian deta gadang dan deta saluak batimbo untuk penghulu, deta ameh, dan deta cilieng manurun.
  2. Baju

    Baju penghulu umumnya berwarna hitam. Baju ini terbuat dari kain beludru. Warna hitamnya melambangkan tentang makna kepemimpinan. Segala puji dan umpat haru dapat diredam seperti halnya warna hitam yang tak akan berubah meski warna lain ikut campur.
  3. Sarawa

    Sarawa adalah celana penghulu yang berwarna hitam. Celana ini memiliki ukuran besar pada bagian betis dan paha. Ukuran inilah yang melambangkan seorang kepala adat atau pemimpin berjiwa besar dalam melaksanakan tugas dan mengambil keputusan atas suatu perkara.
  4. Sasampiang

    Sasampiang adalah selendang merah berhias benang makau warna warni yang diletakan di bahu pemakainya. Warna merah selendang melambangkan makna keberanian, sementara hiasan benang makau melambangkan maka ilmu dan kearifan.
  5. Cawek

    Cawek atau ikat pinggang berbahan sutra yang dikenakan untuk menguatkan ikat celana sarawa yang longgar. Kain sutra ini melambangkan jika seorang penghulu harus cakap dan lembut saat memimpin, selain itu juga sanggup mengikat jalinan persaudaraan antar masyarakat yang dipimpinnya.
  6. Sandang

    Sandang adalah kain merah yang diikatkan di pinggang sebagai pelengkap pakaian adat Minangkabau. Kain merah ini memiliki segi empat, melambangkan bahwa seorang penghulu harus tunduk pada hukum adat yang berlaku.
  7. Keris dan Tongkat

    Keris diselipkan di pinggang, sementara tongkat digunakan untuk petunjuk jalan. Kedua kelengkapan ini adalah simbol bahwa kepemimpinan merupakan sebuah amanah dan tanggung jawab besar.


Pakaian Adat Banten


Baju Pangsi Banten

Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Banten khususnya di wilayah pedesaan yang masih memegang adat istiadat serta memiliki pola hidup yang sederhana, pakaian adat banten masih dipakai. Pakaian adat banten yang digunakan masayrakat khsusunya oleh kaum laki-laki adalah baju pangsi.
Baju pangsi merupakan baju yang dikenakan sehari-hari oleh masyarakat Banten. Baju ini dipadukan dengan busana bawahan berupa celana komprang. Selain sebagai pakaian sehari-hari baju pangsi juga dikenakan dalam latihan silat tradisional atau biasa disebut dengan debus yang kerap digelar oleh masyarakat adat Banten.
Pangsi merupakan singkatan dari Pangeusi “Numpang ka Sisi” yaitu pakaian penutup badan yang pemakaiannya dibelitkan dengan cara menumpang seperti memakai sarung. Baju Pangsi terdiri dari 3 susunan yaitu: Nangtung, Tangtung, Samping.

Pakaian Adat Baduy Banten

Suku Baduy adalah suatu suku pedalaman yang sering dianggap sebagai suku asli masyarakat Banten. Suku ini masih memegang erat hukum adat istiadat dan menutup diri dari masyarakat luar dan kemajuan teknologi.
Kendati demikian, dari sisi penerimaannya terhadap masyarakat dari luar, suku Baduy sendiri dibagi menjadi dua, yaitu suku Baduy Dalam yang sama sekali tidak mau berinteraksi dengan masyarakat luar, dan suku Baduy Luar yang masih mau berinteraksi tetapi dengan batas-batas tertentu. Dalam hal pakaian adat, kedua jenis suku Baduy ini juga mempunyai perbedaan cukup mencolok.